Senin, 25 Agustus 2025

Dolan ke Istana Kepresidenan

7 komentar

HALO, Sobat Pikiran Positif? Senyampang masih dalam euforia Agustusan, aku hendak berbagi cerita seru. Yang pasti seru bagiku, ya. Kalau bagi kalian aku belum tahu. Seru juga atau tidak? Hehe ...

Cerita yang hendak kubagikan ini adalah cerita tentang dolan ke Istana Kepresidenan Gedung Agung Yogyakarta. Tempo hari pada tanggal 15 Agustus 2025. Sehari sebelum ultahku.





Mungkin kalian bertanya-tanya, "Mengapa tidak pas ultah saja dolannya?" 

Nah, ituuu. Sebetulnya keinginanku juga begitu. Akan tetapi, pada tanggal 16 aku justru tidak bisa. Mengapa? Karena tepat pada hari ultahku aku justru harus menjalankan tugas sebagai Panitia Lomba Agustusan di kampung. 

Bukankah rumusannya adalah kepentingan umum di atas kepentingan pribadi? Jadi sebab ultah merupakan perkara pribadi, kukesampingkan egoku. Ceileee. Sedang sadar untuk menjadi orang baik, nih. Menyala diriku! 🔥🤩

Lagi pula, cuma berselang sehari. Yang terpenting sukses memperoleh kuota untuk berkunjung. Lebih menyakitkan kalau sampai enggak kebagian kuota berkunjung. Sementara aku sangat ingin menghadiahi diriku sendiri dengan berfoto di Gedung Agung jelang upacara 17-an.

Sesungguhnya kebetulan banget pengelola Gedung Agung membuka kesempatan kunjungan pada tanggal 15 dan 16. Dengan demikian, aku sebetulnya bisa memilih kunjungan yang tanggal 16. Akan tetapi, aku telah memutuskan jadi orang baik. Pilih mengedepankan kepentingan bersama demi nusa dan bangsa. Astagaaa. Sok iyes banget diriku.

Terlebih pada kedua tanggal tersebut kegiatannya sama. Berkeliling Gedung Agung, berfoto bersama di spot-spot penting, masuk museum spesial, dan melihat-lihat persiapan upacara 17 Agustus tingkat Provinsi DIY. 


Mungkin kalian bertanya-tanya. Kok bisa masuk Istana Kepresidenan? Bagaimana caranya? Apakah kalau ke situ harus berombongan? Baik. Mari kujelaskan.

Aku bisa berkunjung ke Gedung Agung sebab mendaftar. Tatkala itu pengelolanya membuka kesempatan bagi masyarakat umum yang ingin melihat-lihat persiapan upacara 17 Agustusan di Gedung Agung. Akan tetapi, jumlah kuota terbatas. Mesti cepat-cepatan mendaftar. Semacam ticket war.

Pengelola Gedung Agung membuka kesempatan buat masyarakat untuk melihat-lihat persiapan upacara 17 Agustus adalah sesuatu yang langka. Alih-alih mempersilakan warga berkunjung jelang 17 Agustus. Yang biasa terjadi justru menghentikan semua kunjungan warga selama Agustus. 

Tahun lalu aku dan grup PPJ berkirim surat permohonan untuk berkunjung. Eh, ditolak. Alasannya sedang persiapan upacara Agustusan. Kami pun disarankan mengajukan permohonan ulang pada bulan berikutnya. 

Syukurlah tatkala itu kami kemudian bisa masuk ke situ. Namun, kami ikut rombongan JWT by Malamuseum. Tentu jauh setelah upacara Agustusan. 

Perlu diketahui, pihak JWT juga mengajukan permohonan kunjungan. Kemudian diberi surat balasan dari Gedung Agung, yang berisi persetujuan kunjungan dan jadwal kunjungannya.

Jadi, ada dua cara berkunjung ke Istana Kepresidenan Gedung Agung Yogyakarta. Pertama, kita ticket war tatkala pengelolanya membuka formulir pendaftaran di akun instagram resminya. Kedua, melalui pengajuan surat permohonan berkunjung.

Sebetulnya kunjungan pada hari biasa dan kunjungan jelang 17 Agustus rute kelilingnya sama saja. Cuma beda pada sensasi melihat persiapan upacara HUT RI. Buktinya tempo hari itu tua muda, anak-anak, remaja, orang tua, semua antusias berebut kuota. Hehe .... 

Memang seseru itu!






Rabu, 06 Agustus 2025

In Memoriam Bapak

10 komentar

Kolase foto bapak, salah satu buku warisannya beserta tanda tangan dan tulisan tangannya, serta buku antologi saya tentang bapak (Dokpri Agustina)





Hingga 2 tahun kepergian beliau, saya ternyata masih denial. 
Bukan tak ikhlas. Hanya saja, terkadang belum percaya 
kalau beliau telah dipanggil-Nya.

HALO, Sobat Pikiran Positif? Kali ini aku mau bercerita tentang sesuatu yang sedikit sendu bin melankolis. Tentang bapakku.

Begini. Bapakku berulang tahun hari ini. Pada tanggal 6 Agustus 2025 sekarang ini. Ulang tahun yang ke-87. Andaikata beliau belum dipanggil-Nya ...

Namun, faktanya hari ini pada tanggal 6 Agustus 2025 ini, bapakku sudah tiada. Tak terasa sudah 2 tahun berlalu. Sementara sampai sekarang aku masih denial dengan fakta tersebut.

Apa boleh buat? Ternyata bisa selama itu aku denial. Bukan sebab tak ikhlas. Hanya saja, terkadang belum percaya kalau bapak telah tiada di dunia yang fana ini.

Dalam ingatanku, Bapak masih terbaring sakit dan aku ikut rebahan di sebelah kirinya. Tatkala itu aku rebahan bukan sebab kecapekan, melainkan karena pusing berat. Entahlah apa penyebabnya.

Saking pusingnya, aku bahkan mengadu ke bapak. Aku ingat betul saat itu aku memeluk lengan kiri beliau dan berkata, "Paaak, Bapaaak. Sirahku mumet banget."

Itungannya kurang ajar, ya? Orang tua sedang sakit berat kok malah  kuperberat pikirannya. Wajar kalau kemudian aku diomeli si adik bungsu.

Dia bilang tidak etis aku mengadu begitu. Terlebih bapak dalam kondisi sering  mengigau. Sebentar-sebentar istigfar, sebentar-sebentar menjawab salam, "Waalaikumsalam. Njih, njih."

Kadangkala bilang kalau almarhum pakdhe (kakak kandungnya) menunggunya di halaman. Memanggil-manggil untuk mengajak pergi. Faktanya kadang-kadang bapak berkata agak keras seperti sedang menjawab panggilan seseorang, "Waalaikumsalam. Sik, Mas. Tunggu sik, Mas."

Adikku tidak paham. Keadaan demikian membuatku sangat cemas. Alhasil selain memang untuk mengurangi rasa sakit kepala yang menyiksa, aku sengaja mengadu sebab ingin cek-ricek kesadaran bapak.

Aku khawatir dengan kondisi beliau yang tampak antara sadar dan tidak sadar. Aku takut banget. Itulah sebabnya aku ingin memastikan, apakah beliau masih nyambung atau tidak kalau diajak berkomunikasi.

Oleh karena itu, secercah kelegaan singgah di hatiku saat bapak merespons aduanku. "Sirahmu mumet? Wis ngombe obat?"

Alhamdulillah. Beliau bahkan ingat untuk menanyakan apakah aku sudah minum obat atau belum. Hanya saja, kurang lebih 2 pekan kemudian kami harus berpisah untuk selama-lamanya.

Entahlah mengapa aku merasa harus menulis tentang bapak pada hari ini. Tepat persis di hari kelahirannya. Mungkin aku sedang rindu atau sedang merasa bersalah karena belum sempat mempersembahkan hal-hal terbaik untuknya. Sesuai ekspektasinya terhadapku.

Entahlah.

Alfatehah buat bapak ...


Senin, 21 Juli 2025

Tentang Ditutupnya Plengkung Gading

16 komentar

HALO, Sobat Pikiran Positif? Kali ini aku hendak bercerita tentang Plengkung Gading yang ada di Kota Yogyakarta. Yang sejak tanggal 15 Maret 2025 ditutup total. Tidak boleh lagi dilewati, baik dengan kendaraan maupun sekadar berjalan kaki.

Tentu saja penutupan itu sangat berdampak bagi warga sekitar. Termasuk aku tentunya. Suka tidak suka, mengeluh tidak mengeluh, berhubung kami rakyat jelata tiada tara ... yo wis. Ya, sudah. Kami nikmati saja segala dampak tidak mengenakkan yang ada. 

Semengeluh apa pun kalau faktanya Plengkung Gading ditutup ya tetap saja tertutup. Tidak bakalan dibuka sedikit pun kalau keputusan Kraton Yogyakarta adalah menutup total selamanya. 

Dengan demikian, masyarakatlah yang mesti menyesuaikan diri. Misalnya temanku yang rumahnya di timur kraton. Dulu kalau hendak naik bus tinggal berjalan kaki sebentar ke selatan. Ke halte dekat Plengkung Gading. Sekarang? Harus berjalan kaki lebih jauh ke halte lain kalau hendak naik bus. 

Apakah dia ngedumel? Pasti, dong. Sayang sekali ngedumel tidak membuatnya sanggup menembus tembok penutup Plengkung Gading. Jadi kalau tak mau lelah berjalan kaki ke halte yang lebih jauh, dia naik ojek daring. Konsekuensinya harus keluar duit lebih banyak.

Lihatlah. Bukankah itu bukti bahwa memelihara rasa tidak suka dan selalu mengeluh sama sekali tidak bisa menjadi solusi? Malah lama-kelamaan capek sendiri. Belum lagi kalau dihujat oleh orang-orang yang tidak terdampak sebab tidak tinggal di sekitar Plengkung Gading. 

Begitulah adanya. Dampak tidak mengenakkan penutupan Plengkung Gading memang cuma dirasakan orang-orang yang berdomisili di sekitarnya. Selain yang tinggal di sekitaran situ aman-aman saja. Tidak perlu menyesuaikan diri sebab tidak terdampak.

Ngomong-ngomong, kalian tahu lokasi Plengkung Gading atau tidak? Yang warga Yogyakarta pasti tahulah, ya. Pun, yang bukan orang Yogyakarta namun sering beredar di kawasan Sumbu Fìlosofi. Nah. Buat kalian yang belum tahu, mari aku jelaskan.

Begini. Plengkung Gading yang bernama resmi Plengkung Nirbaya berlokasi di sebelah selatan Kraton Yogyakarta. Jadi kalau dari KRATON YOGYAKARTA, kamu tinggal berjalan sebentar ke arah selatan. 

Bisa banget berjalan kaki menyusuri jalan seputaran PASAR NGASEM (yang sedang viral sebagai tempat kulineran), lalu melewati gerbang TAMAN SARI WATER CASTLE, kemudian setelah sampai di Alkid (alun alun kidul) belok kanan dan ... akhirnya tepat di depanmu adalah Plengkung Gading. 

Sebelum ditutup total, Plengkung Gading termasuk rute jalan yang ramai. Betapa tidak ramai? Plengkung Gading 'kan menjadi semacam jalan pintas bagi warga yang berdomisili di luar tembok Kraton Yogyakarta bagian selatan, jika hendak pergi ke berbagai tujuan penting yang berlokasi di dalam tembok kraton. Pun, yang ada di luar tembok kraton bagian utara. 

Antara lain Alkid, Altar/Altara, Pusat Gudheg Wijilan, Museum Kereta, Kraton Yogyakarta, Taman Sari, Titik Nol, Kantor Pos Gede, Malioboro, Pasar Beringharjo, Pasar Kluwih, Pasar Ngasem, SMPN 16 Yogyakarta, SMP Muhammadiyah 5 Yogyakarta, dan beberapa SD Negeri yang berada di dalam tembok kraton. 

Pun, Plengkung Gading itu menjembatani silaturahmi antara anak dan orang tua serta hubungan di antara kerabat secara umum. Hal ini terjadi pada tetangga depan rumah. Salah seorang putrinya tinggal di selatan Plengkung Gading. Dahulu rute mereka dekat kalau hendak saling kunjung. Sekarang rutenya berganti dan menjadi lebih jauh. 

Demikianlah faktanya. Kondisi Plengkung Gading dan sekitarnya kini tak lagi sama. Terlebih sekarang sedang dalam proses revitalisasi. Yang apa pun dan bagaimanapun hasilnya nanti, tidak bakalan bikin Plengkung Gading dibuka untuk umum lagi.

Aku punya informasi menarik terkait Plengkung Gading. Informasinya terkait larangan untuk melewati Plengkung Gading. 

Semasa hidup,  Sultan Ngayogyakarta Hadiningrat yang sedang berkuasa tidak boleh melewati Plengkung Gading. Barulah kelak saat meninggal dan hendak dimakamkan di Imogiri, jenazahnya dilewatkan situ. Imogiri memang terletak di wilayah selatan DIY.

Sebaliknya, rakyat jelata bebas seliweran  melewati Plengkung Gading semasa hidup. Tentu itu dulu, ya. Sebelum ada pelarangan Maret lalu. 

Sementara saat meninggal dunia, jenazah rakyat jelata tidak boleh dilewatkan Plengkung Gading. Sekalipun rumahnya mepet plengkung dan kuburannya cuma sedikit di selatan plengkung, tak ada dispensasi. Pokoknya harus memutar rute. 

Apakah aturan pelarangan itu dipatuhi? Iya. Sejauh pengetahuanku memang dipatuhi. Minimal satu bukti nyata ada di depan hidungku. 

Kurang lebih 3 tahun lalu seorang teman kuliahku meninggal dunia sebab sakit. Rumahnya di njero beteng. Di dalam tembok kraton. Tak jauh dari Plengkung Gading. 

Namun, jenazahnya dilewatkan Pasar Ngasem ke barat. Kemudian keluar tembok kraton, barulah kembali ke timur dan kemudian ke selatan karena pemakaman di Bantul. Adapun Bantul terletak di selatan Kota Yogyakarta.

Sebagai penutup, aku ingin memastikan sesuatu. Jangan-jangan pemahaman kalian tentang Plengkung Gading masih rancu. Jadi agar tak rancu, silakan cermati foto di bawah itu. 

Pada banner ada foto sebuah bangunan putih dengan pintu berbentuk lengkungan. Itulah yang disebut Plengkung Nirbaya atau yang lebih dikenal sebagai Plengkung Gading. Mengapa "gading"? Sebab warnanya putih; merujuk pada warna gading pada umumnya.


Gimana? Seru 'kan ngobrolin Plengkung Gading? Jika Allah Swt mengizinkan, aku akan menulis tentang masa lalu (baca: sejarah) Plengkung Gading. Mau baca jugakah? 😁😀




Senin, 30 Juni 2025

Cerita Sarkem Yogyakarta

17 komentar

HALO, Sobat Pikiran Positif? Apakah kamu sedang tertawa-tawa gara-gara melihat foto yang kusematkan di tulisan ini? Hayo, ngaku saja.

Kalau kamu tertawa, penyebabnya apa? Sebab membaca papan nama jalan yang ada di belakangku? Sebab menertawakan dua pria yang numpang pose saat aku berfoto?

Kalau kamu tertawa sebab membaca papan nama jalan, yaitu Jl. Pasar Kembang, kusimpulkan bahwa kamu remaja zadoel yang tinggal di Yogyakarta dan sekitarnya.

Kuberani menyimpulkan pula bahwa kamu bisa menangkap semangat keisenganku dengan berpose di situ. Tepat di ujung jalan itu. Jalan Pasar Kembang Yogyakarta.

Kalau kamu tertawa sebab dua pria yang berdiri dekat papan nama jalan itu, merasa geli karena mereka diam-diam numpang pose saat aku berpotret, kamu benar!

Mereka memang oknum yang bikin bocor fotoku. Lama ditunggui enggak kunjung pindah. Alhasil, terpaksalah aku berfoto dengan latar belakang mereka.

Hmm. Aku curiga. Sepertinya mereka memang ingin berfoto di dekat papan nama itu. Lalu, fotonya bakalan dipamerkan di medsos atau WA Story.

Cermatilah. Dari segi tampang, mereka kurang lebih segenerasi denganku. Jangan-jangan mereka juga menangkap semangat keisenganku berfoto di situ? Jadi intinya, kami sama-sama iseng berpose di ujung jalan keramat. Eh, Jalan Pasar Kembang.

Sampai di sini, tentu kamu dan kamu yang tak paham Pasar Kembang merasa bingung. Ada apa dengan Pasar Kembang? Bukankah tak ada yang salah?

Iya. Sesungguhnya tak ada yang salah. Jalan di sebelah selatan Stasiun Yogyakarta itu, dahulu memang dipenuhi penjual kembang. Yakni kembang-kembang yang biasa dipakai untuk nyekar. Nyekar adalah pergi ke makam (berziarah).

Akan tetapi, di situ juga merupakan tempat mangkal para "kembang". Kupu-kupu malam. Jadi, selain ada kembang ada pula "kembang".

Begitulah faktanya. Hingga akhirnya kawasan tersebut terkenal sebagai tempat prostitusi legendaris di Yogyakarta. Terkenalnya dengan nama Sarkem alias Pasar Kembang.

Dengan demikian, generasi zadoel pasti senyum-senyum jika mendengar nama Sarkem disebut-sebut. Syukurlah generasi zaman now tidak relate lagi. Yang berarti, Sarkem kini telah kehilangan pamor. Tidak lagi tenar meskipun de facto masih eksis.




 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template